Ketika para penolong menemukan dia, ibu ini sudah meninggal, tergencet rumahnya yang runtuh akibat gempa di China. Melalui semua reruntuhan, orang-orang dapat melihat postur tubuhnya: kedua lututnya di bawah, tubuh atasnya ke depan dengan kedua tangannya menahan tubuhnya, seperti sedang berdoa sujud ke atas langit. Tim penolong menjulurkan tangannya ke dalam melalui reruntuhan untuk memastikan kematiannya. Ia berteriak lagi dan ia mengetukkan bata-bata yang lepas dengan peralatannya, tak ada tanggapan dari dalam
Tim penolong bergerak menuju bangunan berikutnya yang runtuh. Namun pemimpin tim itu pasti merasakan keanehan dalam postur wanita yang telah tewas itu. Ia berjalan kembali, memeriksa kembali dan berteriak kepada anggota timnya: “Kembalilah, ada seorang bayi yang masih hidup di bawah ibu ini!”
Setelah mencoba dengan susah payah, mereka dengan hati-hati menyingkirkan reruntuhan di sekeliling jenazah wanita itu. Di sana terbaring di bawah tubuh wanita itu seorang bayi yang dibungkus dengan rapi, sekitar empat atau lima bulan usianya. Karena perlindungan ibunya, bayi itu tidak terluka sedikitpun. Bayi itu masih tidur ketika ia dikeluarkan. Wajah bayi yang penuh kedamaian itu sungguh menenteramkan orang-orang yang memandangnya. Dokter dipanggil untuk mengadakan pemeriksaan rutin terhadap bayi itu dan menemukan sebuah telpon seluler di bawah selimutnya. Dokter melihat layar HP itu dan terlihat sebuah pesan yang berbunyi: “Bayiku yang tercinta, apabila engkau dapat bertahan hidup, ingatlah Aku selalu mengasihimu!” Bahkan dokter itu yang telah terbiasa melihat kehidupan dan kematian tanpa sadar menitikkan air matanya. HP itu diperlihatkan kepada orang-orang di sekitar itu dan mereka yang membacanya menangis. Betapa luar biasanya kasih seorang ibu. Di tengah-tengah badai goncangan gempa ia tidak memikirkan dirinya lagi, bahkan mengorbankan dirinya agar bayinya selamat…
Catatan:
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com






& Komentar
Agustus 4, 2008 pukul 2:54 pm
Tuhan itu adil dan benar hanya manusia saja yang tidak dapat memahami eksis keadilan Tuhan karena manusia memakai sudut pandang untuk kehidupan manusia itu sendiri.
Berikut penjelasannya:
Jika Anda sebagai manusia tentunya tahu air 1 galon ada harganya, begitu juga oksigen 1 kubik mempunyai harga ekonomis dan seluruh sumber energi di bumi ini.
Manusia setiap hari bernafas menghirup udara dan setiap 1(satu) menit manusia rata rata menghirup 35-40 tarikan udara,dan dimana ini udara yang kita hirup adalah pemberian Tuhan secara gratis.
Jika manusia mengukur keadilan menurut sudut pandangnya maka seharusnya juga mengukur dan mengetahui bahwa udara milik Tuhan yang di berikan tidak gratis melainkan ada nilainya. Dan bagaimana kalau Tuhan juga akan mengukur keadilan seperti yang manusia buat untuk membandingkannya, maka jika Tuhan menilai memberi harga 1 x hembusan nafas adalah Rp 1, sudah berapa rupiahkah Anda berhutang kepada TUHAN tanpa Anda sadari selama hidup ini? Bagaimana jika Anda tidak sanggup membayar hutang tersebut dan Tuhan menstop nafas Anda, inikan wajar juga bagi TUHAN untuk melakukannya.
Biar lebih jelas dan paham saya kasih rasio perhitungannya :
Harga disini sudah dipatok murah meriah. Coba saja Anda bandingkan dengan oksigen yang di jual di pasaran, pasti harganya jauh berbeda.
1 menit = 35 tarikan nafas
1 tarikan nafas = Rp 1 ( harga paling murah nilainya)
35 tarikan nafas = Rp 35
1 jam = Rp 2.100
24 jam = Rp 50.400
1 thn = Rp 18.396.000
Jadi jika Anda hidup setahun seharusnya membayar Delapan belas juta tiga ratus sembilan puluh enam ribu rupiah.
Sudah berapa tahun Anda hidup kalikan saja hutang Anda tersebut, apalagi kita tahu adanya nilai ekonomis inflasi dan bagaimana jika inflasi itu terjadi kenaikan harga sampai Rp 10 / tarikan nafas ataupun lebih dari itu.
Setahun anda di wajibkan bayar Rp 183.960.000 (seratus delapan puluh tiga juta sembilan ratus enam puluh ribu rupiah)
Apakah sanggup Anda membayarnya sebelum Tuhan menghitung hutang Anda tersebut dan Anda ternyata tidak sanggup membayarnya dan akhirnya Tuhan menstop nafas Anda?
Kesimpulan:
Keadilan Tuhan tidak bisa hanya di ukur sebatas pengetahuan manusia saja,
Oleh karena itu janganlah SOMBONG, manusia hakekatnya adalah tanah yang dihembusi nafas dari Tuhan.
September 3, 2008 pukul 11:01 pm
Kasih ibu , doa ibu, nasehat ibu …………
Ya ….. semoga tidak ada anak yang anggap remeh pada ibunya .