Mei 2, 2008...6:48 pm

Pengendalian Diri

Lompat ke Komentar

Cerita ini adalah “kisah nyata” yang pernah terjadi di Amerika.

Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain. Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya tergores. Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman. Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke rumah sakit. Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari  anak  yang  hancur  tersebut,  tetapi  ia  tetap  gagal. Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, “Papa, aku minta maaf tentang trukmu.” Kemudian, ia bertanya, “tetapi kapan jari-jariku akan tumbuh kembali?”

Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Renungkan cerita di atas! Berpikirlah dahulu sebelum anda kehilangan kesabaran kepada seseorang yang anda cintai. Truk dapat diperbaiki. Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki. Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam. Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya. Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan lainnya.

Ingatlah, jika kita menghakimi orang, kita tidak akan ada waktu untuk mencintainya.

Catatan:
Dikutip dari Buletin Suara Sinar Kasih GKJ Kudus edisi 35

1 Komentar

  • Peristiwa serupa sesungguhnya terjadi disekitar kita, hal itu karena disebabkan oleh ketidakmampuan mengendalikan emosi.
    Dalam kenyataan hidup sehari-hari kita memang sering lebih mengutamakan harta dunia dari pada hidup itu sendiri, sering terjadi hanya untuk Uang beberapa rupiah mereka rela berdesak-desakan hingga pingsan bahkan ada yang meninggal.
    Firman Tuhan berkata : ‘cinta uang adalah akar kejahatan’
    Dan begitulah yang terjadi ketika Manusia lebih mencintai uang dari pada orang.
    Falsafat jawa mengatakan ” lebih baik kalah uang dari pada kalah orang” itulah yang terbaik.


Tinggalkan Balasan